Senin, 07 April 2014

SEMPU



Keberanian dan nekat itu bedanya tipis sekali. Rasanya hampir seperti rasa takut yang sangat kuat tapi dikalahkan oleh rasa penasaran yang amat sangat.  Excited! 


Perjalanan ke Sempu dari Pare memakan waktu lebih kurang enam jam dengan mengendarai sepeda motor . Itu belum termasuk jalan kaki yang merupakan pilihan satu-satunya untuk mencapai tempat menakjubkan tersebut. Yah, sekitar 1,5 jam jalan kaki jika medannya sedang bagus. Bagus di sini bukan berarti mudah dilalui, tapi dalam artian tidak terlalu licin. Tapi akan berbeda jika medannya sedang buruk, bisa memakan waktu 3-4 jam perjalanan. Ini juga tergantung dengan siapa saja kita menuju Sempu.

Saya berangkat dari Pare dengan tiga orang teman. Semuanya anak TC 5 –nya Global English. Dua orang dari boys camp, dan satu dari girls camp. Kami berempat berangkat ke Sempu dengan memanfaatkan kekosongan kekuasaan alias libur pergantian periode.  Kami mencuri waktu yang sempit dengan jadwal program kami berikutnya.

Jadi setelah menghitung budget dan mempersiapkan apa-apa saja yang perlu dibawa, kami berangkat. Tapi segala sesuatu sepertinya tidak berjalan sesuai rencana. Memang benar, manusia hanya membuat rencana dan tuhanlah yang menentukan.

Setelah perjalanan yang melelahkan, yang membuat saya hampir-hampir tidak bisa merasakan pantat saya lagi, gemetar dan mual karena hawa dingin disepanjang perjalanan, juga sarapan yang agak telat, cobaan pertama menghampiri. Setelah membayar uang masuk, membayar jasa penitipan motor, kami dihadapkan dengan pilihan keharusan menggunakan pemandu oleh pihak perizinan tempat wisata tersebut, mekipun salah satu dari kami mengetahui jalan menuju ke sana.

Setelah berunding lumayan lama, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa pemandu. Terlalu banyak yang telah kami keluarkan. Bagi saya, jika keaadaan memburuk dan rencana yang telah disusun tiba-tiba berkhianat, pilihan yang tersisa adalah menikmatinya. Karena marah-marah tidak akan merubah apapun, selain perasaan kita menjadi lebih buruk. Lalu kami menyeberang menggunakan kapal. Dan harus membayar jasa penyeberangan lagi.

Dan kegilaan yang terpendam jauh di dalam jiwa saya akhirnya keluar begitu saja. Saya tidak tahu tentang yang lainya. Begitu kapal merapat dan pemandu menginstruksikan kami untuk mengikutinya, dengan ransel yang lumayan berat, saya mulai melangkah. Dan keajaiban atau mungkin saja keanehan, semua rasa lelah dan geram menghilang begitu saja.

Saya benar-benar tidak tahu, yang salah itu medannya atau saya-nya. Setelah berjalan menyusuri hutan tanpa istirahat, bahkan saya tidak merasa letih. Begitu mendengar debur ombak dan melihat air yang berkilat-kilat, semangat saya memuncak dan langsung berjalan menghampiri mereka: air yang jernih, karang yang menjulang, dan ombak yang liar, dan sanset yang baru saja akan terbenam. Saya benar-benar merasa akan mati karena senangnya.

Dan ternyata itu belum seberapa. Karena tertarik dengan tebing-tebing yang seolah merayu untuk didaki, saya mulai mendaki bukit karang yang sangat tajam. Dan…… Subhanallah! Allah Maha Besar! Seketika saya langsung ingin lompat ke laut. Tentu saja bukan mau bunuh diri, tapi saking takjubnya.

Sebenarnya jika saya melompat, itu benar-benar percobaan bunuh diri. Kenapa? Karena julukan saya adalah “Hantu Air yang ga bisa berenang.”  Karena begitu lihat air, bawaanya pengen langsung nyemplung. Tidak peduli nanti tenggelam atau tidak. Bahkan seorang teman saya, begitu mendengar saya akan ke Sempu mengatakan “bilang hati-hati ke lu aja gue masih mikir, gue lebih kasihan sama hutan, laut,  karang , dibanding dengan elunya.” Bisa membayangkan saya seperti apa kan?

Pas OTW, saya mengabari teman saya melalui sms, dan inilah balasannya “yahh… jangan centil ya sama monyet di sana.. jangan berenang ke ujung.. jangan terjun dari tebing... jangan lompat-lompati karang.. jangan lompat2 di kapal.” Banyak banget petuahnya, hihihi.

Tapi alhasil, saya seperti menemukan mainan saya yang telah lama hilang, saya mulai memanjati karang, mencari ketinggian untuk menikmati pemandangan yang lebih menakjubkan lagi. Menuruni tepian karang yang menjorok ke laut. Sampai diomelin teman saya. Tapi saya cuma senyum-senyum saja. Yah mau bagaimana lagi, rasanya seperti anak kecil yang berhasil membohongi ibunya ‘senang, was-was, dan merasa bersalah’ tapi yang bisa dikatakannya hanya ‘maaf dan terima kasih.’

Ketika kami bersiap untuk pulang, kami berpapasan dengan rombongan anak-anak Global yang lainnya. Saigon, Male 3, Male 4, and also Mr. Nyom-Nyom and Mr. Azam. Duh, coba kami tidak dikejar program, pasti asik banget join dengan mereka. Perjalanan pulang menyusuri hutan benar-benar terasa singkat bagi saya. Rasanya belum puas menghirup udara segarnya. Tapi perjalanan dari dermaga ke Pare benar-benar bagai penyiksaan. 

Pulang dari Sempu, saya punya gelar baru lagi “crazy woman”…. Ah whatever!

Selasa, 25 Maret 2014

I'm "Flegmatis"

Senin, 24 maret 2014. Pagi hari…

Duh. Kesel banget gua pas dibilangin ada training lagi. Kan harusnya libur panjang. Gua kan pengen tidur. Anak TC memang full program.

Alhasil gua pergi juga ke Pare Corner(salah satu tempat makan and tempat belajar di bawah naungan Global English yang tersohor di Pare, kampong inggris), mengikuti titah Mr. Agus, meneger Global English.

Sampai di sana, seperti biasa, sambil menunggu kelas dimulai gua nyari tempat untuk PW (Posisi Wenak). Sementara member TC yang lain busy with theirs own business, gua keluarin buku grammar A-Z nya Nous Team (biasanya gua cari tempat untuk bersandar and kemudian memejamkan mata). Tapi setelah 2 minggu jadi member TC, gue merasa iri banget ama temen-temen yang berusaha mengimprove kemampuan bahasa inggris mereka. Salut pokoknya ngeliat mereka pada giat banget belajar (sebenarnya gua baru nemuin itu buku di box-nya Miss Siti, jadi gua pinjam aja untuk nambah-nambah ilmu). 

Setelah 10 menit berlalu, Mr. Agus menginstrusikan kami untuk masuk kelas. Beliau membuka kelas dengan gaya khasnya… kalem dan tenang (sebenarnya gua baru sekali bertemu dan berbincang dengan beliau, yaitu saat teken kontrak TC). And itu kesan pertama yang gua rasakan.

We wonder what will be taught by him. Ternyata… hanya test kepribadian bro! (jadi merasa rugi udah bernegative thinking, hehehe).

Testnya  mengasikkan. Kami hanya perlu memilih salah satu statement dari masing-masing soal yang terdiri dari 40 soal. Caranya sederhana, hanya mengingat-ingat kelakuan dan kepribadian kita saat masih anak-anak.

Hasilnya “gua flegmatis!” yaitu kepribadian yang cinta damai, cuek bebek, ga mau repot, penengah yang baik, tapi sering kali tidak bisa menentukan tujuan hidup. Bener-bener gue banget deh!

Berdasarkan… (gua lupa siapa) ada 4 jenis characters: sanguine (keras kepala dan tidak bisa diatur, penghibur yang baik, kekanak-kanakan, dan cepat merasa bosan akan segala sesuatu), kolaris (berjiwa pemimpin, arogan, emosional, bersemangat, dan sangat sulit untuk dinasehati atau diarahkan), melankolis (perfeksionis, teliti dan teratur dalam menjalani hidup, sangat kreatif, tapi sangat mudah putus asa dan depresi), dan terakhir “flegmatis”.

Through this test, kami jadi mengerti karakter kami masing-masing. Tentunya akan sangat bermanfaat bagi kami untuk menjalin hubungan dan pengelolaan organisasi yang lebih baik ke depannya sebagai satu keluarga besar dan tim yang baik.

So… “What time is it?” “It’s time to change!!!” “Better English for brighter future.” “Yess… we can!!!” Sesuai banget ama slogan Global English pokoknya.

Sabtu, 22 Maret 2014

TC oh TC





Pernah kepikiran bepergian dengan modal nekad? Beh! Pasti pernah! Berarti kita sama. Emang bener deh ungkapan yang mengatakan “dunia hanya milik orang-orang yang berani”, tapi jujur aja gua lupa kapan and dimana gua pernah baca ne kalimat.

Bermula dari rasa jenuh berkutat dengan pekerjaan yang ga ada habis-habisnya, iseng-iseng gua buka situs kampong inggris yang udah tersohor sampai ke seluruh pelosok negeri. Maka sejarah baru hidup gua pun dimulai. Gua berkenalan dengan TC, scholarship program-nya  Global English. Dan memaksa diri gua yang belum pernah melalang buana sampe ke pulau jawa, nekad angkat kaki dari hometown tercinta.

Setelah minta izin ortu  (via telpon karena gua ga tinggal ma mereka berdua) gua pesan tiket ke Surabaya dengan harga selangit (mendadak soalnya) and mengepak barang gua yang hanya 3 setel pakaian aja (ne anak ga niat pergi kali). Perjalanan aneh bin ajaib akhirnya gua lakonin juga.

Karena gua dapat jadwal penerbangan jam 6.00 pagi, gua memutuskan untuk berangkat ke bandara Sultan Thaha Syifudin pada malam hari. Jadi gua minta tolong kakak ipar untuk mengantar ke sana. Normalnya, perjalanan dari rumah kontrakan gua ke airport memakan waktu 4-5 jam perjalanan dengan menggunakan jasa mobil travel. Tapi ini di luar normal! Setelah 7 jam terguncang-guncang di atas kendaraan dengan supir yang berhenti beberapa kali untuk tidur and cuci muka, gua sampai ke bandara and hampir ga diizinkan untuk check in (telat soalnya). Tapi setelah berkutat dengan petugas beberapa saat akhirnya dikasih izin juga (gila aja kalau ne tiket sampe hangus).

Saat mengantri di gate, gua baru sadar belum ganti celana (gua pake trening and jaket bro! persis orang mau pergi senam pagi). Ah , bodo amat. Udah terlanjur (untung banget gua dianugerahi sifat cuek ga tanggung-tanggung ama yang maha kuasa).

Mau cerita yang lebih heboh? (stttttttttt! Ini pengalaman pertama gua naik pesawat). Gua tanya aja ma orang-orang yang duduk di kanan kiri gua. Mau kemana? Pare itu ada dimana? Seberapa jauh kalau dari Juanda? And sederet pertanyaan lainnya yang bakalan bikin lo pura-pura tidur.

Singkatnya, akhirnya gua sampe di Jakarta, transit dulu sekitar 4 jam-an.

TO BE CONTINUED