Keberanian dan nekat itu bedanya tipis sekali. Rasanya hampir
seperti rasa takut yang sangat kuat tapi dikalahkan oleh rasa penasaran yang
amat sangat. Excited!
Perjalanan ke Sempu dari Pare memakan waktu lebih kurang
enam jam dengan mengendarai sepeda motor . Itu belum termasuk jalan kaki yang
merupakan pilihan satu-satunya untuk mencapai tempat menakjubkan tersebut. Yah,
sekitar 1,5 jam jalan kaki jika medannya sedang bagus. Bagus di sini bukan
berarti mudah dilalui, tapi dalam artian tidak terlalu licin. Tapi akan berbeda
jika medannya sedang buruk, bisa memakan waktu 3-4 jam perjalanan. Ini juga
tergantung dengan siapa saja kita menuju Sempu.
Saya berangkat dari Pare dengan tiga orang teman. Semuanya anak
TC 5 –nya Global English. Dua orang dari boys camp, dan satu dari girls camp. Kami
berempat berangkat ke Sempu dengan memanfaatkan kekosongan kekuasaan alias
libur pergantian periode. Kami mencuri
waktu yang sempit dengan jadwal program kami berikutnya.
Jadi setelah menghitung budget dan mempersiapkan apa-apa
saja yang perlu dibawa, kami berangkat. Tapi segala sesuatu sepertinya tidak
berjalan sesuai rencana. Memang benar, manusia hanya membuat rencana dan
tuhanlah yang menentukan.
Setelah perjalanan yang melelahkan, yang membuat saya
hampir-hampir tidak bisa merasakan pantat saya lagi, gemetar dan mual karena
hawa dingin disepanjang perjalanan, juga sarapan yang agak telat, cobaan
pertama menghampiri. Setelah membayar uang masuk, membayar jasa penitipan
motor, kami dihadapkan dengan pilihan keharusan menggunakan pemandu oleh pihak
perizinan tempat wisata tersebut, mekipun salah satu dari kami mengetahui jalan
menuju ke sana.
Setelah berunding lumayan lama, akhirnya kami memutuskan
untuk menggunakan jasa pemandu. Terlalu banyak yang telah kami keluarkan. Bagi saya,
jika keaadaan memburuk dan rencana yang telah disusun tiba-tiba berkhianat,
pilihan yang tersisa adalah menikmatinya. Karena marah-marah tidak akan merubah
apapun, selain perasaan kita menjadi lebih buruk. Lalu kami menyeberang
menggunakan kapal. Dan harus membayar jasa penyeberangan lagi.
Dan kegilaan yang terpendam jauh di dalam jiwa saya akhirnya
keluar begitu saja. Saya tidak tahu tentang yang lainya. Begitu kapal merapat
dan pemandu menginstruksikan kami untuk mengikutinya, dengan ransel yang
lumayan berat, saya mulai melangkah. Dan keajaiban atau mungkin saja keanehan,
semua rasa lelah dan geram menghilang begitu saja.
Saya benar-benar tidak tahu, yang salah itu medannya atau
saya-nya. Setelah berjalan menyusuri hutan tanpa istirahat, bahkan saya tidak
merasa letih. Begitu mendengar debur ombak dan melihat air yang berkilat-kilat,
semangat saya memuncak dan langsung berjalan menghampiri mereka: air yang
jernih, karang yang menjulang, dan ombak yang liar, dan sanset yang baru saja
akan terbenam. Saya benar-benar merasa akan mati karena senangnya.
Dan ternyata itu belum seberapa. Karena tertarik dengan
tebing-tebing yang seolah merayu untuk didaki, saya mulai mendaki bukit karang
yang sangat tajam. Dan…… Subhanallah! Allah Maha Besar! Seketika saya langsung
ingin lompat ke laut. Tentu saja bukan mau bunuh diri, tapi saking takjubnya.
Sebenarnya jika saya melompat, itu benar-benar percobaan
bunuh diri. Kenapa? Karena julukan saya adalah “Hantu Air yang ga bisa berenang.”
Karena begitu lihat air, bawaanya pengen
langsung nyemplung. Tidak peduli nanti tenggelam atau tidak. Bahkan seorang
teman saya, begitu mendengar saya akan ke Sempu mengatakan “bilang hati-hati ke
lu aja gue masih mikir, gue lebih kasihan sama hutan, laut, karang , dibanding dengan elunya.” Bisa
membayangkan saya seperti apa kan?
Pas OTW, saya mengabari teman saya melalui sms, dan inilah
balasannya “yahh… jangan centil ya sama monyet di sana.. jangan berenang ke
ujung.. jangan terjun dari tebing... jangan lompat-lompati karang.. jangan
lompat2 di kapal.” Banyak banget petuahnya, hihihi.
Tapi alhasil, saya seperti menemukan mainan saya yang telah
lama hilang, saya mulai memanjati karang, mencari ketinggian untuk menikmati
pemandangan yang lebih menakjubkan lagi. Menuruni tepian karang yang menjorok
ke laut. Sampai diomelin teman saya. Tapi saya cuma senyum-senyum saja. Yah mau
bagaimana lagi, rasanya seperti anak kecil yang berhasil membohongi ibunya ‘senang,
was-was, dan merasa bersalah’ tapi yang bisa dikatakannya hanya ‘maaf dan
terima kasih.’
Ketika kami bersiap untuk pulang, kami berpapasan dengan
rombongan anak-anak Global yang lainnya. Saigon, Male 3, Male 4, and also Mr.
Nyom-Nyom and Mr. Azam. Duh, coba kami tidak dikejar program, pasti asik banget
join dengan mereka. Perjalanan pulang menyusuri hutan benar-benar terasa
singkat bagi saya. Rasanya belum puas menghirup udara segarnya. Tapi perjalanan
dari dermaga ke Pare benar-benar bagai penyiksaan.
Pulang dari Sempu, saya punya gelar baru lagi “crazy woman”….
Ah whatever!


